I.
Masyarakat
- Pengertian
Sebelum kita bicara lebih lanjut
masalah masyarakat, baiklah kita tinjau dulu definisi tentang masyarakat.
Definisi adalah uraian ringkas untuk memberikan batasan-batasan mengenai
sesuatu persoalan atau pengertian ditinjau daripada analisis. Analisis Inilah
yang memberikan arti yang jernih dan kokoh dari sesuatu pengertian. Mengenai
arti masyarakat, baiklah di sini kita kemukakan beberapa definisi mengenai
masyarakat dari para sarjana, seperti misalnya :
1. R.
Linton : Seorang ahli antropologi mengemukakan, bahwa masyarakat adalah setiap
kelompok manusia yang telaha cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka
ini dapat mengorganisasikan dirinya berpikir tentang dirinya dalam satu
kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.
2. M.J.
Herskovits : Mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang
diorganisasikan dan mengikuti satu cara hidup tertentu.
3. J.L. Gillin dan J.P. Gillin : Mengatakan bahwa
masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan,
tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi
pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil.
4. S.R.
Steinmetz: Seorang sosiolog bangsa Belanda mengatakan, bahwa masyarakat adalah
kelompok manusia yang terbesar, yanag meliputi pengelompokan-pengelompokan
manusia yang lebih kecil, yang mempunyai perhubungan yang erat ada teratur.
5. Hasan
Shadily : mendefinisikan masyarakat adalah golongan besar atau kecil dari
beberapa manusia, yang dengan pengaruh bertalian secara golongan dan mempunyai
pengaruh kebatinan satusama lain.
Kalau kita mengikuti definisi
Linton, maka masyarakat itu timbul dari setiap kumpulan individu, yang telah
lama hidup dan bekerja sama dalam waktu yang cukup lama. Kelompok manusia yang
dimaksud di atas yang belum terorganisasikan mengalami proses yang fundamental,
yaitu :
a. Adaptasi
dan organisasi dari tingkah laku para anggota.
b. Timbul
perasaan berkelompok secara lam bat laun a tau I esprit de cerpa.
Proses ini biasanya tanpa
disadari dan diikuti oleh semua anggota kelompok dalam suasana trial and error.
Dari uraian tersebut di atas dapat kita lihat bahwa masyarakat dapat mempunyai
arti yang luas dan arti yang sempit. Dalam arti luas masyarakat dimaksud
keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh
lingkungan, bangsa dan sebagainya. Atau dengan kata lain : kebulatan dari semua
perhubungan dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti sempit masyarakat dimaksud
sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya
teritorial, bangsa, golongan dan sebagainya.
- Syarat-Syarat Menjadi Masyarakat
Mengingat definisi-definisi
masyarakat atersebut di atas maka dapat diambil kesimpulan, bahwa masyarakat harus mempunyai
syarat-syarat sebagai
berikut :
1. Harus
ada pengumpulan manusia, dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang:
2. Telah
bertempat tinggal dalam waktu yang lama di suatu daerah tertentu;
3. Adanya
aturan-aturan atau undang-undang yang mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan
dan tujuan bersama.
- Tipe-Tipe Masyarakat
Dipandang dari cara terbentuknya, masyarakat dapat dibagi
dalam :
1. Masyarakat
paksaan, misalnya : negara, masyarakat tawanan dan lain-lain.
2. Masyarakat
merdeka, yang terbagi dalam :
a.
Masyarakat natuur, yaitu masyarakat yang
terjadi dengan sendirinya, seperti gerombolan (horde), suku (stam), yang
bertalian karena hubungan darah atau keturunan. Dan biasanya masih sederhana
sekali kebudayaannya.
b.
Masyarakat
kultur, yaitu masyarakat yang terjadi karena kepentingan keduniaan atau
kepercayaan, misalnya : koperasi, kongsi perekonomian, gereja dan sebagainya.
Apabila kita berbicara tentang
masyarakat, terutama jika kita mengemukakannya dari sudut antropologi, maka
kita mempunyai kecenderungan untuk melihat 2 tipe masyarakat :
Pertama, satu masyarakat kecil
yang belum begitu kompleks, yang belum mengenal pembagian kerja, belum mengenal
struktur dan aspek-aspeknya masih dapat dipelajari sebagai satu kesatuan.
Kedua, masyarakat yang sudah
kompleks. yang sudah jauh menjalankan spesialisasi dalam segala bidang. karena
ilmu pengetahuan modern sudah maju, teknologi maju. sudah mengenal tulisan,
satu masyarakat yang sukar diselidiki dengan baik dan didekati sebagian saja.
Sebenarnya pembagian masyarakat
dalarn 2 tipe itu hanya untuk keperluan penyelidikan saja. Dalarn satu rnasa
sejarah antropologi, masyarakat yang sederhana itu menjadi obyek penyelidikan
dari antropologi, khususnya antropologi sosial. Sedang masyarakat yang
kompleks, adalah terjadi obyek penyelidikan sosiologi.
Sekarang
ruang lingkup penyelidikan antropologi dan sosiologi tidak
mempunyai batas-batas yang jelas. Hanya pada rnetode-rnetode
penyelidikan ada beberapa perbedaan. Antropologi sosial mengarahkan
penyelidikannya ke arah perkotaan. sedang sosiologi melebarkan studinya ke
daerah pedesaan. Sebenarnya dua tipe masyarakat itu berbeda secara gradual
saja, bukan secara prinsipil.
II.
Masyarakat
Perkotaan
·
Pengertian
Masyarakat
perkotaan sering disebut juga urban community. Pengertian
masyarakat kota lebih ditekankan
pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan
masyarakat pedesaan.
Perhatian
khusus masyarakat kota tidak terbatas pada aspek-aspek seperti pakaian, makanan
dan perumahan, tetapi mempunyai perhatian lebih luas lagi. Orang-orang kota
sudah memandang penggunaan kebutuhan hidup, artinya oleh hanya sekadarnya atau
apa adanya. Hal ini disebabkan oleh karena pandangan warga kota sekitarnya.
Kalau menghidangkan makanan misalnya, yang diutamakan adalah bahwa yang
menghidangkannya mempunyai kedudukan sosial yang tinggi. Bila ada tamu
misalnya, diusahakan menghidangkan makanan-makanan yang ada dalam kaleng. Pada
orang-orang desa ada kesan, bahwa mereka masak makanan itu sendiri tanpa memperdulikan
apaka tamu-tamunya suka atau tidak. Pada orang kota, makanan yang dihidangkan
harus kelihatan mewah dan tempat penghidangannya juga harus me wah dan
terhormat. Di sini terlihat pP-rbedaan penilaian. Orang desa memandang makanan
sebagai suatu alat rnemenuhi kebutuhan biologis, sedangkan pad orang kota,
makanan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan sosial. Demikian pula masalah
pakaian, orang kota memandang pakaian pun sebagai alat kebutuhan sosial. Bahkan
pakaian yang dipakai merupakan perwujudan dari kedudukan sosial si pemakai.
- Ciri-Ciri Masyarakat Perkotaan
1. Kehidupan keagamaan berkurang
bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa. Kegiatan-kegiatan
keagamaan hanya setempat di tempat-tempat peribadatan, seperti : di masjid,
gereja. Sedangkan di luar itu, kehidupan masyarakat berada dalam lingkungan
ekonomi, perdagangan. cara kehidupan demikian mempunyai kecenderungan ke arah
keduniawian, bila dibandingkan dengan kehidupan warga masyarakat desa yang
cenderung ke arah keagamaan.
2. Orang kota pada umumnya dapat
mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang-orang lain. Yang
terpenting di sini adalah manusia perorangan atau individu. Di kota-kota
kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan, sebab perbedaan kepentingan,
paham politik, perbedaan agama, dan sebagainya.
3. Pembagian kerja di antara
warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata.
Misalnya seorang pegawai negeri lebih banyak bergaul dengan rekan-rekannya
daripada tukang-tukang becak, tukang kelontong atau pedagang kaki lima lainnya.
Seorang sarjana ekonomi akan lebih banyak bergaul dengan rekannya dengan latar
belakang pendidikan dalam ilmu ekonomi daripada dengan sarjana-sarjana ilmu
politik, sejarah, atau yang lainnya. Begitu pula dalam lingkungan mahasiswa
mereka lebih senang bergaul dengan sesamanya daripada dengan mahasiswa yang
tingkatannya lebih tinggi atau rendah.
4. Kemungkinan-kemungkinan untuk
mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota daripada warga
desa. Pekerjaan para warga desa lebih bersifat seragam, terutama dalam bidang
bertani. Oleh karena itu pada masyarakat desa tidak banyak dijumpai pembagian
kerja berdasarkan keahlian. Lain halnya di kota, pembagian kerja sudah meluas,
sudah ada macam-macam kegiatan industri, sehingga tidak hanya terbatas pada
satu sektor pekerjaan. Singkatnya, di kota banyak jenis-jenis pekerjaan yang
dapat diker_iakan oeh warga-warga kota, mulai dari pekerjaan yang sederhana
sampai pada yang bersifat teknologi.
5. Jalan pikiran rasional yang pada
umumnya dianut masyarakat perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang
terjadi lebih didasarkan pada faktor kepentingan daripada faktor pribadi.
6. Jalan kehidupan yang cepat di
kota-kota, mengakibatkan pentingnya factor waktu bagi warga kota, sehingga
pembagian waktu yang tyeliti sangat penting, untuk dapat mengejar
kebutuhan-kebutuhan seorang individu.
7. Perubahan-perubahan sosial
tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota-kota biasanya terbuka dalam
menerima pengaruh-pengaruh dari Iuar. Hal ini sering menimbulkan pertentangan
antara golongan tua dengan golongan muda. Oleh karena itu golongan muda yang
belum sepenuhnya terwujud kepribadiannya, lebih sering mengikuti pola-pola baru
dalam kehidupannya.
III.
Masyarakat
Pedesaan
- Pengertian Desa/Pedesaan
Yang dimaksud dengan desa menurut
Sutardjo Kartohadikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu
kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.
Menurut Bintarto desa merupakan
perwujudan atau kesatuan geografi, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang
terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara
timbal-balik dengan daerah lain. Sedangkan menurut Paul H. Landis : Desa adalah
penduduknya kurang dari 2.500 jiwa.
- Ciri-Ciri Desa
Dengan ciri-cirinya sebagai berikut
:
1. Mempunyai pergaulan hidup yang
saling kenal mengenal antara ribuanjiwa.
2. Ada pertalian perasaan yang sama
ten tang kesukaan terhadap kebiasaan.
3. Cara berusaha (ekonomi) adalah
agraris yang paling umum yang sangatdipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan
alam, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat
sambilan.
Masyarakat pedesaan ditandai dengan
pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan
setiap wargalanggota masyarakat yang amat kuat yang hakikatnya, bahwa seseorang
merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat di mana ia
hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap
waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan
samasama sebagai anggota masyarakat yang saling mencintai saling menghormati,
mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagian
bersama di dalam masyarakat.
- Ciri-Ciri Masyarakat Pedesaan ( sebutkan dan jelaskan )
Adapun yang menjadi ciri-ciri
masyarakat pedesaan antara lain sebagai
berikut :
1. Di dalam masyarakat pedesaan di
antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila
dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya;
2. Sistem kehidupan umumnya
berkelompok dengan dasar kekeluargaan (Gemeinschaft atau paguyuban).
3. Sebagian besar warga masyarakat
pedesaan hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian
merupakan pekerjaan sambilan (part time) yang biasanya sebagai pengisi waktu
luang.
4. Masyarakat tersebut homogen,
seperti dalam hal mata pencarian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.
IV. Perbedaan Masyarakat Pedesaan
dan Masyarakat Perkotaan
Ada
beberapa ciri yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk untuk
membedakan
antara desa dan kota. Dengan melihat pcrbedaan-perbedaan yang ada mudah-mudahan
akan dapat mengurangi kesulitan dalam menentukan apakah suatu masyarakat dapat
disebut sebagai masyarakat pedesaan atau masyarak.at perkotaan.
- Ciri-ciri tersebut antara lain :
2. lingkungan hidup
3. mata pencaharian;
4. corak kehidupan sosial
5. stratifikasi sosial;
6. mobilitas ·sosial;
7. pola interaksi sosial;
8. solidaritas sosial; dan
9. kedudukan dalam hierarki sistem
administrasi nasional.
Meskipun tidak ada ukuran pasti, kota
memiliki penduduk yanag jumlahnya lebih banyak dibandingkan desa. Hal ini
mempunyai kaitan erat dengan kepadatan penduduk, yaitu jumlah penduduk yang
tinggal pada suatu luas wilayah tertentu, misalnya saja jumlah per KM "
(kilometer persegi) atau jumlah per hektar. Kepadatan penduduk ini mempunyai
pengaruh yang besar terhadap pola pembangunan perumahan. Di desa jumlah penduduk
sedikit, tanah untuk keperluan perumahan cenderung ke arah horisontal, jarang
ada bangunan rumah bertingkat. J adi karen a pelebaran sam ping tidak
memungkinkan maka untuk memenuhi bertambahnya kebutuhan perumahan,
pengembangannya mengarah ke atas.
Lingkungan hidup di pedesaan sangat jauh
berbeda dengan di perkotaan. Lingkungan pedesaan terasa lebih dekat dengan alam
bebas. Udaranya bersih, sinar matahari cukup, tanahnya segar diselimuti
berbagai jenis tumbuhtumbuhan dan berbagai satwa yang terdapat di sela-sela
pepohonan, di
permukaan
tanah, di rongga-rongga bawah tanah ataupun berterbangan di udara bebas. Air
yang menetes, merembes atau memancar dari sumbersumbernya dan kemudian mengalir
melalui anak-anak sungai mengairi petakpetak persawahan. Semua ini sangat
berlainan dengan lingkungan perkotaan yang sebagian besar dilapisi beton dan
aspal. Bangunan-bangunan menjulang tinggi saling berdesak-desakan dan
kadang-kadang berdampingan dan berhimpitan dengan gubug-gubug liar dan
pemukiman yang padat. Udara yang seringkali terasa pengap, karena tercemar asap
buangan cerobong pabrik dan kendaraan bermotor. Hiruk-pikuk, lalu lalang
kendaraan ataupun manusia di sela-sela kebisingan yang berasal dariberbagai
sumber bunyi yang seolah-olah saling berebut keras satu sama lain. Kota sudah
terlalu banyak mengalami sentuhan teknologi, sehingga penduduk kota yang
merindukan alam kadang-kadang memasukkan sebagian alam ke dalam rumahnya, baik
yang berupa tumbuh-tumbuhan, bahkan mungkin hanya gambarnya saja.
Perbedaan paling menonjol adalah pada mata
pencaharian. Kegiatan utama penduduk desa berada di sektor ekonomi primer yaitu
bidang agraris. Kehidupan ekonomi terutama tergantung pada usaha pengelolaan
tanah untuk keperluan pertanian, peternakan dan termasuk juga perikanan darat.
Sedangkan kota merupakan pusat kegiatan sektor ekonomi sekunder yang meliputi
bidang industri, di samping sektor ekonomi tertier yaitu bidang pelayanan jasa.
Jadi kegiatan di desa adalah mengolahalam untuk memperoleh bahan-bahan mentah,
baik bahan kebutuhan pangan, sandang maupun lain-lain bahan mentah untuk
memenuhi kebutuhan pokok manusia. Sedangkan kota mengolah bahan-bahan mentah
yang berasal dari desa menjadi bahan-bahan setengah jadi atau mengolahnya
sehingga berwujud bahan jadi yang dapat segera dikonsumsikan. Dalam hal
distribusi hasil produksi ini pun terdapat perbedaan antara desa dan kota. Di
desa jumlah ataupun jenis barang yang tersedia di pasaran sangat terbatas. Di
kota tersedia berbagai macam barang yang jumlahnya pun melimpah. Bahkan tempat
penjualannya pun beraneka ragam. Ada barang-barang yang dijajakan di kaki-lima,
dijual di pasar biasa di mana pembeli dapat tawar-menawar dengan penjual atau
dijual di supermarket dalam suasana yang nyaman dan harga yang pasti. Bidang
produksi dan jalur distribusi di perkotaan lebih kompleks bila dibandingkan
dengan yang terdapat di pedesaan, hal ini memerlukan tingkat teknologi yang
lebih canggih. Dengan demikian memerlukan tenaga-tenaga yang memilki keahlian
khusus untuk melayani kegiatana produksi ataupun memperlancar arus
distribusinya.
Corak kehidupan sosial di desa dapat
dikatakan masih homogen. Sebaliknya di kota sangat heterogen, karena di sana
sating bertemu berbagai suku bangsa, agama, kelompok dan masing-masing memiliki
kepentingan yang berlainan.
Beranekaragamnya corak kegiatan di bidang
ekonomi berakibat bahwa sistem pelapisan sosial (stratifikasi sosial) kota jauh
lebih kompleks daripada di desa. Misalnya saja mereka yang memiliki keahlian
khusus dan bidang kerjanya lebih banyak memerlukan pemikiran memiliki kedudukan
lebih tinggi dan upah lebih besar daripada mereka yang dalam sistem kerja hanya
mampu menggunakan tenaga kasarnya saja. Hal ini akan membawa akibat bahwa
perbedaan antara pihak kaya dan miskin semakin menyolok.
Mobilitas sosial di kota jauh lebih besar
daripada di desa. Di kota, seseorang memiliki kesempatan lebih besar untuk
mengalami mobilitas sosial, baik vertikal yaitu perpindahan kedudukan yang
lebih tinggi atau lebih rendah, maupun horisontal yaitu perpindahan ke
pekerjaan lain yang setingkat. Pola-pola interaksi sosial pada suatu masyarakat
ditentukan oleh struktur sosial masyarakat yang bersangkutan. Sedangkan
struktur sosial sangat dipengaruhi oleh lembaga-lembaga sosial (social
institutions) yang ada pada masyarakat tersebut. Karena struktur sosial dan
lembaga-lembaga sosial yang ada di pedesaan sangat berbeda dengan di perkotaan,
maka pola interaksi sosial pada kedua masyarakat tersebut juga tidak sama. Pada
masyarakat pedesaan, yang sangat berperan dalam interaksi dan hubungan sosial
adalah motif-motif sosial.
V.
Contoh
Kasus
Kepadatan
Penduduk Sebagai Akar dari Permasalahan Kota Jakarta
Berbicara
mengenai permasalahan perkotaan di Indonesia, pikiran kita tidak bisa terlepas
dari Jakarta. Jakarta adalah contoh yang sangat pas untuk membahas sebuah –
permasalahan dalam kota. Khususnya masalah kepadatan penduduk. Masih jelas di
kepala kita, beberapa waktu yang lalu banyak isu yang menyebutkan bahwa ada
rencana pemindahan ibu kota Republik Indonesia. Kenapa? Karena Ibu kota yang
sekarang dinilai tidak layak lagi untuk dijadikan sebagai ibu kota. Ada alasan
yang begitu rumit untuk dijelaskan bahkan, aparat yang katanya pemimpin kota
dan negeri ini pun kelimpungan dan terkesan ngumpet-ngumpet ketika ditanyakan mengenai
kota yang amat sembrawut ini. Tidak hanya mengenai pemindahan kota Jakarta,
tetapi yang lebih mengerikan dari pada itu adalah ada wacana yang disebutkan
para ahli bahwa 2080 ada kemungkinan Jakarta akan tenggelam. Tidak heran jika
Koran Jakarta Post edisi Jumat, 08/21/2010 juga memperjelas hal tersebut
mungkin akan terjadi, karena hari-hari ini pun kerap terjadi banjir di Jakarta.
Untuk
itu, baik buat kita sekalian untuk mengerti arti dari sebuah kota. Kota. Sangat
sulit mendefinisikan kota secara umum, Pakar Perkotaan Gino Germani pun sepakat
dengan hal itu. Untuk dapat mendefinisikan kota harus dilihat dari berbagai
sudut pandang. Misalnya Gino Germani, ia mengatakan bahwa kota itu dapat
dilihat dari dua sudut. Pertama demografis, yaitu bahwa kota itu pasti dihuni
oleh penduduk yang relative besar. Kedua sosiologis, yaitu dilihat dari banyak
aspek seperti hukum (Athena dan Sparta), ekonomi (Pusat Industri) dan social
(personal). Jika pendapat ini dihubungkan dengan Jakarta, maka Jakarta dapat
dikatakan sebagai akumulasi dari semua aspek tersebut. Jakarta sebagai pusat
ekonomi, social, budaya, hukum pemerintahan dan juga politik. Jakarta menjadi
pusat segala peradaban yang terjadi di Indonesia. Semuanya ada di Jakarta.
Masyarakat Indonesia memandang Jakarta sebagai tambang emas, karena semuanya
ada di Jakarta. Oleh karena itu banyak para urban berbondong-bondong ke kota
ini dengan tujuan dapat merubah kondisi perekonomian di desa.
Jakarta
dalam Surat kabar The Jakarta Post (edisi Jumat, 21 Agustus 2010) menyebutkan
bahwa penduduk Jakarta berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Menurut hasil
sensus nasional terakhir, ibu kota dihuni oleh hampir 9,6 juta orang melebihi
proyeksi penduduk sebesar 9,2 juta untuk tahun 2025. Populasi kota ini adalah 4
persen dari total penduduk negara, 237.600.000 orang.
Dengan
angka-angka ini, kita dapat melihat bahwa populasi kota telah tumbuh 4,4 persen
selama 10 tahun terakhir, naik dari 8,3 juta pada tahun 2000. Apa yang
dikatakan angka-angka ini? “Ibukota telah kelebihan penduduk.” Pada tingkat
ini, Jakarta memiliki kepadatan penduduk 14.476 orang per kilometer persegi.
Sebagai akibatnya, para pembuat kebijakan kota perlu merevisi banyak target
pembangunan kota ini, termasuk penciptaan lapangan kerja, ketahanan pangan,
perumahan, kesehatan dan infrastruktur, sebagai peredam masalah pada saat kota
sudah mengalami kepadatan penduduk yang sangat menghawatirkan.
Tanggapan
Saya :
Jumlah
penduduk ditentukan oleh : 1. Angka kelahiran 2. Angka kematian 3. Perpindahan
penduduk, yang meliputi :a. Urbanisasi, b. Reurbanisasi, c. Emigrasi, d.
Imigrasi, yaitu e. Remigrasi, f. Transmigrasi. Yang menjadi focus penyebab
kepadatan penduduk Jakarta saat ini adalah adalah Urbanisasi. Dimana, fakta
berbicara bahwa penduduk kota Jakarta mayoritas adalah para urban. Badan Pusat
Statistik (BPS) DKI Jakarta 2010 mengatakan bahwa jumlah penduduk Jakarta
bertambah sebanyak 134.234 jiwa per tahun. Jika tidak ada program dari
pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, maka pada 2020
Jakarta akan menjadi lautan manusia. Kenapa mereka berurbanisasi ke Jakarta?
Ada
banyak faktor yang memicu urbanisasi misalnya; modernisasi teknologi, rakyat
pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan serba wah yang ada di kota besar
sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan kampungnya. Pendidikan. Faktor
pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap melunjaknya jumlah penduduk.
Universitas terbaik di Indonesia baik negeri maupun swasta ada perkotaan
termasuk di Jakarta. Lapangan Kerja. Jakarta sebagai kota besar dan berpenduduk
banyak tentunya sangat menjanjikan untuk orang-orang kecil yang berniat untuk
mencari sesuap nasi dikota ini mulai dari pedagang kaki lima (PKL), pedagang
asongan, tukang ojek, tukang sngat menjanjikan untuk hidup.emir sepatu, buruh
pabrik, pembantu rumah tangga, office boy, satpam, sopir, kondektur dll yang
penting bisa bekerja tanpa nmempunyai keahlian khusus. Jika ditambah dengan
orang-arang yang berkeahlian khusus yang didatangkan dari luar kota maupunh
luar negeri untuk bekerja di Jakarta. Pusat Hiburan. Jakarta merupakan magnet
dan pintu gerbang Indonesia. Indonesia mempunyai daya tarik tersendiri sebagai
kota Jakarta dekat dengan tempat – tempat hiburan yang sperti mall, pantai
indah kapuk, dufan, pantai Tidung, sea world dan banyak arena-arena yang
lainnya yang tidak ada di kota-kota lain di Indonesia.
Jumlah penduduk ditentukan oleh : 1. Angka kelahiran 2.
Angka kematian 3. Perpindahan penduduk, yang meliputi :a. Urbanisasi, b.
Reurbanisasi, c. Emigrasi, d. Imigrasi, yaitu e. Remigrasi, f. Transmigrasi.
Yang menjadi focus penyebab kepadatan penduduk Jakarta saat ini adalah adalah
Urbanisasi. Dimana, fakta berbicara bahwa penduduk kota Jakarta mayoritas
adalah para urban. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta 2010 mengatakan
bahwa jumlah penduduk Jakarta bertambah sebanyak 134.234 jiwa per tahun. Jika
tidak ada program dari pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan
penduduk, maka pada 2020 Jakarta akan menjadi lautan manusia. Kenapa mereka
berurbanisasi ke Jakarta?
Ada banyak faktor yang memicu urbanisasi misalnya;
modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan
serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan
kampungnya. Pendidikan. Faktor pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap
melunjaknya jumlah penduduk. Universitas terbaik di Indonesia baik negeri
maupun swasta ada perkotaan termasuk di Jakarta. Lapangan Kerja. Jakarta
sebagai kota besar dan berpenduduk banyak tentunya sangat menjanjikan untuk orang-orang
kecil yang berniat untuk mencari sesuap nasi dikota ini mulai dari pedagang
kaki lima (PKL), pedagang asongan, tukang ojek, tukang sngat menjanjikan untuk
hidup.emir sepatu, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, office boy, satpam,
sopir, kondektur dll yang penting bisa bekerja tanpa nmempunyai keahlian
khusus. Jika ditambah dengan orang-arang yang berkeahlian khusus yang
didatangkan dari luar kota maupunh luar negeri untuk bekerja di Jakarta. Pusat
Hiburan. Jakarta merupakan magnet dan pintu gerbang Indonesia. Indonesia
mempunyai daya tarik tersendiri sebagai kota Jakarta dekat dengan tempat –
tempat hiburan yang sperti mall, pantai indah kapuk, dufan, pantai Tidung, sea
world dan banyak arena-arena yang lainnya yang tidak ada di kota-kota lain di
Indonesia.
Jumlah penduduk ditentukan oleh : 1. Angka kelahiran 2.
Angka kematian 3. Perpindahan penduduk, yang meliputi :a. Urbanisasi, b.
Reurbanisasi, c. Emigrasi, d. Imigrasi, yaitu e. Remigrasi, f. Transmigrasi.
Yang menjadi focus penyebab kepadatan penduduk Jakarta saat ini adalah adalah
Urbanisasi. Dimana, fakta berbicara bahwa penduduk kota Jakarta mayoritas
adalah para urban. Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta 2010 mengatakan
bahwa jumlah penduduk Jakarta bertambah sebanyak 134.234 jiwa per tahun. Jika
tidak ada program dari pemerintah untuk mengendalikan laju pertumbuhan
penduduk, maka pada 2020 Jakarta akan menjadi lautan manusia. Kenapa mereka
berurbanisasi ke Jakarta?
Ada banyak faktor yang memicu urbanisasi misalnya;
modernisasi teknologi, rakyat pedesaan selalu dibombardir dengan kehidupan
serba wah yang ada di kota besar sehingga semakin mendorong mereka meninggalkan
kampungnya. Pendidikan. Faktor pendidikan juga sangat berpengaruh terhadap
melunjaknya jumlah penduduk. Universitas terbaik di Indonesia baik negeri
maupun swasta ada perkotaan termasuk di Jakarta. Lapangan Kerja. Jakarta
sebagai kota besar dan berpenduduk banyak tentunya sangat menjanjikan untuk
orang-orang kecil yang berniat untuk mencari sesuap nasi dikota ini mulai dari
pedagang kaki lima (PKL), pedagang asongan, tukang ojek, tukang sngat
menjanjikan untuk hidup.emir sepatu, buruh pabrik, pembantu rumah tangga,
office boy, satpam, sopir, kondektur dll yang penting bisa bekerja tanpa
nmempunyai keahlian khusus. Jika ditambah dengan orang-arang yang berkeahlian
khusus yang didatangkan dari luar kota maupunh luar negeri untuk bekerja di
Jakarta. Pusat Hiburan. Jakarta merupakan magnet dan pintu gerbang Indonesia.
Indonesia mempunyai daya tarik tersendiri sebagai kota Jakarta dekat dengan
tempat – tempat hiburan yang sperti mall, pantai indah kapuk, dufan, pantai
Tidung, sea world dan banyak arena-arena yang lainnya yang tidak ada di
kota-kota lain di Indonesia.
VI. Hubungan
Desa dan Kota
Masyarakat pedesaan dan perkotaan
bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam
keadaan yang wajar di antara keduanya terdapat hubungan yang erat, bersifat
ketergantungan, karena di antara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung
pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan seperti
beras, sayurmayur, daging dan ikan.Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi
jenisjenis pekerjaan tertentu di kota, misalnya saja buruh bangunan dalam
proyekproyek perumahan, proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau
jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja-pekerja musiman.
Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan di bidang
pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota
terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
Sebaliknya, kota menghasilkan
barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian,
alat dan obat-obatan pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk
memelihara kesehatan dan alat transportasi. Kota juga menyediakan tenaga-tenaga
yang melayani bidangbidang jasa yang dibutuhkan oleh orang desa tetapi tidak
dapat dilakukannya sendiri, misalnya saja tenaga-tenaga di bidang medis atau
kesehatan, montirmontir, elektronika dan alat transportasi serta tenaga yang
mampu memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan hasil budi daya pertanian,
peternakan ataupun perikanan darat.
Dalam kenyataannya hal ideal
tersebut kadang-kadang tidak terwujud karena adanya beberapa pembatas. Jumlah
penduduk semakin meningkat, tidak terkecuali di pedesaan. Padahal, luas lahan
pertanian sulit bertambah, terutama di daerab yang sudab lama berkembang
seperti pulau Jawa. Peningkatan basil pertanian banya dapat diusabakan melalui
intensifikasi budi daya di bidang ini. Akan tetapi, pertambaban basil pangan
yang diperoleb melalui upaya intensifikasi ini, tidak sebanding dengan
pertambaban jumlab penduduk, sebingga pacta suatu saat basil pertanian suatu
daerab pedesaan banya cukup untuk memenubi kebutuban penduduknya saja, tidak
kelebiban yang dapat dijual lagi. Dalam keadaan semacam ini, kotaterpaksa
memenubi kebutuban pangannya dari daerab lain, babkan kadang-kadang terpaksa mengimpor
dari luar negeri. Peningkatan jumlab penduduk tanpa diimbangi dengan perluasan
kesempatan kerja ini pacta akbirnya berakibat babwa di pedesaan terdapat banyak
orang yang tidak mempunyai mata pencabarian tetap. Mereka ini merupakan
kelompok pengangguran, baik sebagai pengangguran penub maupun setengah
pengangguran.
VII.
5
Unsur Lingkungan Perkotaan
Daerah, dalam arti tanah-tanah
yang produktif dan yang tidak, bt>serta penggunaannya, termasuk juga unsur
lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografis setempat.
Penduduk, adalah hal yang
meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian
penduduk desa setempat. Tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan
ikatan-ikatan pergaulan warga desa. Jadi menyangkut seluk-beluk kehidupan
masyarakat desa (rural society).
Ketiga unsur desa ini tidak lepas
satu sama lain, artinya tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan satu
kesatuan Unsur daerah, penduduk dan tata kehidupan merupakan suatu kesatuan hidup
atau "Living unit".
Daerah menyediakan kemungkinan
hidup, penduduk menggunakan kemungkinan yang disediakan oleh daerah itu guna
mempertahankan hidup. Tata kehidupan, dalam artian yang baik memberikan jaminan
akan ketenteraman dan keserasian hidup bersama di desa. (Bintaro, 1977 : 15). Unsur
lain yang termasuk unsur desa yaitu, unsur letak. Letak suatu desa pada umumnya
selalu jauh dari kota atau dari pusat pusat keramaian.
Peninjauan ke desa-desa atau perjalanan ke
desa sama artinya dengan menjahui kehidupan di kota dan lebih mendekati
daerah-daerah yang monoton dan sunyi. Desa-desa yang pacta perbatasan kota
mempunyai kemampuan berkembang yang lebih banyak dari pacta desa-desa di
pedalaman.
Unsur letak menentukan
besar-kecilnya isolasi suatu daerah terhadap daerah-daerah lainnya.Desa yang
terletak jauh dari batasan kota mempunyai tanah-tanah pertanian yang luas. Ini
disebabkan karena penggunaan tanahnya lebih banyak dititik beratkan pacta
tanaman pokok dan beberapa tanaman perdagangan ~aripada gedung-gedung atau
perumahan.
Penduduk merupakan unsur yang
penting bagi desa. "Potential man power" terdapat di desa yang masih
terikat hidupnya dalam bidang pertanian. Kadang-kadang di beberapa desa
terdapat tenaga-tenaga yang berlebihan di bidang pertanian, sehingga timbul apa
yang disebut dengan istilah pengangguran tak kentara atau "disguished
unemploment". Dalam hal ini perlu diperhatikan penyaluran-penyaluran yang
sebaik-baiknya, misalnya dengan lebih meningkatkan dan menyebarkan "rural
industries" atau migrasi yang efisien.
Corak kehidupan di desa
didasarkan pacta ikatan kekeluargaan yang erat. Masyarkat merupakan suatu
"gemeinshaft" yang memiliki unsur gotong royong yang kuat. Hal ini
dapat dimengerti karena penduduk desa merupakan "face group" dimana
mereka saling mengenal betul seolah-olah mengenal dirinya sendiri.
Faktor lingkungan geografis
memberi pengaruh juga terhadap kegotongroyongan ini misalnya saja:
1. Faktor
topografi setempat yang memberikan suatu ajang hidup dan suatu bentuk adaptasi
kepada penduduk.
2. Faktor
iklim yang dapat memberikan pengaruh positif maupun negative terhadap penduduk
terutama petani-petaninya.
3. Faktor
bencana alam seperti letusan gunung, gempa bumi, banjir dan sebagainya yang
harus dihadapi dan dialami bersama.
Jadi persamaan nasib dan pengalaman
menimbulkan hubungan sosial yang akrab.
Referensi :
1. Abu Ahmadi, Drs, ILMU SOSIAL DASAR, Rineka Cipta,
Juli 1991.
2. Abdullah Taufic, PEMUDA DAN PERUBAHAN SOSIAL,
Jakarta,
LP3ES,1974.
3. Arief Budiman, PEMUDA DAN SOSIALISASI, Lokakarya
Penyusunan
Kumpulan Bahan Program Mata Kuliah lSD, Universitas
Brawid jaya,
Malang, Januari 1985.
4. Darmansyah, M, ILMU SOSIAL DASAR (KUMPULAN
ESSAI), Usaha
Nasional, Surabaya Indonesia, 1986.
5. Gerungan W,A, ISD (KUMPULAN ESSAI), Usaha
Nasional, Surabaya.
6. H. Hartomo, Drs dan Arnicun Azis, Dra, MKDU lSD,
Bumi Aksara,
Desember, 1990.
7. Harsja Bachtiar,MASALAH INTEGRASI NASIONAL DI
INDONESIA,
Prisma No. 8 LP3ES
8. Hasan Shadely, SOSIOLOGI UNTUK MASYARAKAT
INDONESIA,
Bina Aksara, Jakarta, 1983.
9. Hadi Syaiful, MATER! PEN AT ARAN MKDU ISD , Unpad
Bandung,
1980.
10. Koentjaraningrat, BEBERAPA POKOK ANTROPOLOGI
SOSIAL, Dian
Rakyat, Jakarta, 1967
11. Munandar Soelaeman, ISD TEORI DAN KONSEP ILMU
SOSIAL, edisi
revisi, PT Eresco Bandung, 1989.
12. Mitchell, Duncan, SOSIOLOGI SUATU ANALISA SISTEM
SOSIAL,
Jakarta Bina Aksara, 1984.
281
282
13. Markun M. Enoch, SOSIALISASI KONSORSIUM ANTAR
BIDANG,
Dep. P & K, Rl, Jakarta.
14. Mubyarto, ILMU EKONOMI, ILMU SOSIAL DAN
KEADILAN, 1980
15. Nuril Huda, METODE EVALUASI MKDU SUATU TINJAUAN,
1988
16. Parsudi Suparlan, MASY ARAKAT PERKOTAAN DAN
MASYARAKAT PEDESAAN BAHAN PENATARAN ISO SELURUH
INDONESIA, TAW AMANGU SOLO, 1981.
17. Soerjono SoeRamto, MASY ARAKAT PERKOT AAN DAN
MASYARAKAT PEDESAAN, Sosiologi Suatu Pengantar,
Jakarta, UI.
18. Soewaryo Wangsanegara, BUKU MATER! POKOK ISO
(modul 1-3),
Penerbit Karunika, Jakarta.
19. Siswanto dan Tim Dosen ISO, ILMU SOSIAL DASAR,
Ikip,
Malang, 1989.
20. Wahyu, WA WASAN ILMU SOSIAL DASAR, Surabaya,
Usaha Nasional,
1986.
21. Widjaja, ILMU SOSIAL DASAR, Akademi
Presindo,1985.
22. ilmusosialdasar-lintang.blogspot.com/2012/11/contoh-kasus-masyarakat-perkotaan-di.html?m=1
No comments:
Post a Comment